viewers

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS




2.      Apa itu berfikir ?

A.    Berfikir menurut para ahli sebagai berikut :
Vincent ruggiero ( 1998 ) mengartikan berfikir sebagai “ segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami: berfikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna”
John Chaffe ( 1994 ), direktur Pusat bahasa dan pemikiran kritis di LaGuardi College, City University of New York ( CUNY ), menjelaskan bahwa berfikir sebagai “ sebuah proses aktif, teratur, dan penuh makna yang kita gunakan untuk memahami dunia”. ( Ratih Ramlan, 2008 )
Eysecnk ( 1994) dan Thomson ( 2000) menjelaskan bahwa berfikir atau  menalar adalah proses yang bersandar paada aturan dalam memutuskan secara logis apa yang diyakini dan proses penarikan kesimpulan dari sejumlah fakta, bukti, dan data. Aktivitas dasar menalar adalah menarik simpulan atau konklusi dan mengevaluasi bukti dan merupakan hal essensial yang menunjukan kemampuan individu untuk melakukan hala yang melampui apa yang tersedia dalam informasi yang ada ( Ratih Ramlan, 2008 )
Dua tipe penalaran atau berfikir yang dijelaskan Eysenck ( 1994 ), Bluedorn ( 1995 , dan vopi dan Burgress Jackson ( 1996 ), adalah berfikir deduktif dan induktif.
Secara lebih spesifik dapat dijelaskan bahwa argument berfikir deduktif dapat dibuktikan kebenaranya. Kebenaran konklusi dalam argument deduktif bergantung pada dua hal, yaitu kesahlihan bentuk argument berdasarkan prinsip dan hukumaya; dan kebenaran isi premisnya berdasarkan realitas. Dua bentuk tipe argument deduktif adalah silogisme kategoris dan silogisme hipotesis ( Ratih Ramlan, 2008 )
Silogisme kategoris adalah argument yang pasti terdiri atas dua premis dan satu konklusi, dengan setiap pernyataanya dimulai dengan kata semua, tidak ada, dan beberapa atau sebagian.
Contoh :
Premis 1 : semua atlet adalah orang yang sehat jiwa raga
Premis 2 :   beberapa pelajar adalah atlet
Konklusi : jadi, beberapa pelajar adalah orang yang sehat jiwa raga.
Disimpulkan bahwa berfikir deduktif adalah cara berfkir logis yang mengikuti serangkaian aturan. Didalamnya aktivitas berfikir analisis dan sintesi terhadap kondisi atau situasi yang ada ( Ratih Ramlan, 2008 )
Disisi lain, berfikir induktif bergerak dari premis spesifik ke konklusi umum atau generalisasi. Premisnya tidak menjadi dasar untuk kebenaran konklusi, tetapi memberikan sejumlah dukungan untuk konklusinya. Simpulan atau konlusinya tidak mengandung kepastian mutlak. Konklusi induktif tidak akan pernah terbukti benar kecuali bila meneliti semua premis khususnya. ( Ratih Ramlan, 2008 )
B.     Cara atau proses berfikir ada dua yaitu , secara induktif dan secara deduktif secara umum dalam ilmu keperawatan.
1.      Berfikir Induktif
Berfikir induktif merupakan cara berfikir melalui penarikan kesimpulan umum sejumlah atau serangkaian gejala spesifik dan peristiwa nyata. Secara sederhana, kerangka kerja berpikir induktif dapat digunakan sebagai berikut : (Prof.Dr. sudarwan Danim, 2003 )


 
Gejala 1
Gejala 2                                   kesimpulan atau generalisasi.
Gejala 3
Gejala n

2.      Aritotles (384 - 322) merupakan orang pertama yang mengembangkan suatu sistem logika deduktif adalah menarik kesimpulan berdasarkan alasana- alasan tertentu. Kesimpulan ditarik dari keadaan yang berlaku umum untuk hal – hal yang khusus. Alasan – alsana ini mencerminkan suatu kesimpulan dan memberikan bukti atas kesimpulan tersebut ( Barbara I grendemann dan billie fernsebner, 2005 )

Berfikir deduktif merupakan suatu proses berfikir yang mensyaratkan proposisi, yaitu pernyataan yang terdiri atas satu atau lebih variable. Dengan demikan, berfikir deduktif merupakan suatu proses berfikir melalui pengejawabatan sejumlah gejala umum ke gejala khusus atau spesifik. Cara berfikir deduktif, sekali lagi mensyaratkan prosisi, tempat prosisi pertama disebut sebagai premis mayor atau gejala umum kedua disebut premis minor atau gejala khusus. Jika premis mayor dan premis minor dirumuskan secar benar, kesimpulannya akan benar. Pola dasar berfikir adalah sebagai berikut : (Prof.Dr. sudarwan Danim, 2003 )
Premis mayor : semua A adalah Z
Premis minor : A’ bagian dari A
Kesimpulan : A; merupakan bagian dari Z
Pernyataan  1: semau karyawan dipercaya bahwa mereka tidak akan mencuri
Pernyataan 2 : Zainal adalah seorang karyawan
Kesimpulan : Zainal dipercaya, ia tidak akan mencuri
v  Menurut kelompok kami, dapat disimpulkan bahwa berfikir  adalah proses yang bersandar paada aturan dalam memutuskan secara logis apa yang diyakini dan proses penarikan kesimpulan dari sejumlah fakta, bukti, dan data. Proses berfikir  itu ada dua yaitu berfikir deduktif dan berfikir induktif.

3.      Apa itu berfikir kritis ?
Berpikir kritis adalah suatu proses yang menantang seorang individu untuk menginterprestasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat penilaian (potter perry).
kemampuan perawat untuk berpikir secara kritis dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman, memecahkan suatu masalah dan membuat keputusan akan sangat dibutuhkan yang juga merupakan inti dari praktik keperawatan. Kataoka dan yahiro (1994) sebagaimana dikutip dalam Potter&Perry (2005) telah mengembangkan suatu model tentang berpikir kritis dalam penilaian keperawatan.  Model ini memiliki lima komponen yang dibutuhkan ketika melakukan praktek klinis yang pada akhirnya mengarahkan perawat untuk membuat penilaian  klinis yang aman dan efektif dan konsisten. Lima model berpikir kritis tersebut yaitu:
1.      Dasar pengetahuan Khusus
Dasar pengetahuan khusus adalah pengetahuan dasar yang harus dimiliki perawat yang mencakup segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah keperawatan. Pada model ini, pengetahuan yang dimiliki oleh perawat sangat beragam sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perawat itu sendiri.
2.       Pengalaman
Pada model ini, perawat akan dituntut untuk berpikir secara kritis bagaimana penerapan dari apa yang telah dipelajari dengan menyesuaikan lingkungan yang ada. Pengalaman perawat pada saat merawat klien sebelumnya, berbagai macam keunikan yang ada pada klien yang mungkin tidak diketahui ketika belum praktik langsung, sehingga perawat dituntut untuk berpikir secara kritis tentang hal-hal tersebut yang dapat didasarkan pada berbagai pengalaman yang dialami.
3.      Kompetensi
Kompetensi berpikir kritis adalah proses kognitif yang digunakan perawat untuk membuat nilai keperawatan (Potter&Perry, 1995). Terdapat tiga kompetensi yaitu kompetensi umum, khusus dalam situasi klinis dan khusus dalam keperawatan. Kompetensi umum mencakup metode ilmiah dimana umum digunakan dalam berbagai bidang lain untuk menyelesaikan berbagai masalah. Sedangkan kompetensi khusus dalam situasi klinis mencakup pertimbangan diagnostik, kesimpulan klinis dan pembuatan keputusan klinis ynag jug adigunakan oleh tenaga kesehatan lain. Dan kompetensi khusus dalam keperawatan yaitu dimana perawat berpikir secara kritis dalam memberikan asuhan keperaatan yang dibutuhkan dengan mengkaji, mengidentifikasi dan mengevaluasi respon klien terhadap asuhan keperawatan tersebut.
4.      Sikap
Sikap dalam hal ini adalah nilai nilai yang harus ditunjukan keberhasilannya oleh perawat sebagai pemikir kritis. Sikap-sikap tersebut termasuk tanggung gugat. Dimana ketika keputusan yang telah dibuat dna dilaksanakan oleh perawat maka keputusan tersebut maka perawat tersebut juga harus menerima tanggung gugat  terhadap apapun penilaian klien sebagai perawat professional. Selain itu sikap  seperti berpikir mandiri, berani mengambil resiko, rendah hati atau mengakui keterbatasan diri sendiri, memilki integritas, tekun dan kreatif juga sangat diperlukan  dalam menemukan solusi yang tepat.
5.      Standar Intelektual dan profeional
Ketika perawat memikirkan masalah klien, sangat penting bahwa perawat tersebut memiliki standar intelektual yaitu tepat dan spesifik, akurat, mendalam, masuk akal, konsisten, logis, signifikan, dan adekuat agar masalh yang dialami klien dapat teratasi dengan baik. Selain standar intelektual yang dimiliki perawat tersebut juga harus memiliki standar inteelektual professional ynag juga untuk kebaikan klien berupa kriteria etik untuk penilaian keperawatan dan evaluasi serta tanggung jawab professional.
v  Menurut kelompok kami, dapat disimpulkan bahwa Berfikir kritis adalah sebuah proses penarikan kesimpulan dalam memecahkan suatu masalah dengan berbagai model cara berfikir kritis untuk menginterprestasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat penilaian

4.      Bagaimana langkah – langkah dalam berfikir ?
Delapan langkah untuk menjadi pemikir kritis
Berikut ini akan disampaikan delapan langkah yang dapat diikuti pemikir kritis.  Menerapkan langkah –langkah ini secar rutin akan membantumembuat berpikir kritismenyatu dengan dirikita.  ( Elain b.johnson, 2007 )
1.      Apa sebenarnya isu, maslaha, keputusan, atau kegiatan yang sedang dipertimbangkan?
Isu adalah sebuah topik pelik yang dapat memunculkan perselisihan. Sebuah isu dapat diungkapkan dengan jelas, ajukan pertanyaan tentang persoalan pokok yang ada.
2.      Apa sudut pandangnya ?
Sudut pandag, sudut pribadi yang kita gunakan dalam memandang sesuatu, dapat membutakan kita dari kebenaran. Bahkan sudut pandang bisa mencemari pikiran sehingga kita dengan sadarmenerima alasan yangburuk dan kesimpulanya yang tidak masuk akal dan mempertahankanya. Karena sudut pandang membuat kita memilih satu posisi tertentu,pemikir kritis berusaha untuk menyadarinya, lalu menangguhkan pandangan mereka yang penuh prasangka. Mereka berusaha menanguhkan pilihan subjektif dan pada saat yang sama dengan sistematis,mereka melakukan pertimbangan- pertimbanganuntukmeningkatkan pengetahuan dan mendapatkan pemahaman.
3.      Apa alasana yang diajukan?
Kita semua percaya bahwa keyakinan dan tindakan kita didasarkan pada alsan yang masuk akal. Kekuatan dari sebuah alasaan ergantung pada konteksnya. Alsan bisa berupa faktual 80 % ( garry & herry, 1995). Alsan bisa berupapenjelasan atau suatu kejadian, menengaskan sebuah ide umum atau mengambil bentuk bentukyang lain.tugas pemikir kritis adalah mengindentifikasi alasan da bertaya apakah alasan –alsan yang dikemukaanmasuk akal seusai dengan konteksnya. Alasan yang bagus didasarkan pada informasi yang dapatdipercaya dan relevan dengan kesimpulan yang ditarik sesudahnya.
4.      Asumsi – asumsi apa saja yang dibuat ?
Asumsi adalah ide – ide yang kita terimaapa adanya.kita menganggap asumsi sebagai kebenaran yang sudah terbukti,dan kita berharap orang lain mau bergabung dengan kita untuk menerima kebenaran asumsi tersebut.pemikir yang cerdas enggan memasukan asumsi dalam argumen yang mereka buat; mereka juga tidak mudah menerima asumsi yang terdapat dalam materi yang dibuat oleh orang lain ( browne & keely, 1990;ruggiero 1984)
Mortimer adler (1998), seorang filsuf terkenal, mengatalkan bahwa menerima asumsi sama dengan melepaskan tanggung jawab untuk membentuk ide kita sendiri.penegthauan didasarkan pada akal dan membawa kita pada kebenaran.
5.      Menggunakan Bahasa Indonesia yang tepat, jelas, dan khas dalam mendiskusikan persoalan yang diangkat oleh penulis artikel tersebut.
6.      Mengevaluasi data dan menilai fakta serta pernyataan-pernyataan.
7.      mencermati adanya hubungan logis antara masalah-masalah dengan jawaban-jawaban yang diberikan.
8.      Menarik kesimpulan atau pendapat tentang isu atau persoalan yang sedang dibicarakan.

5.      Perbedaan berfikir kritis dan logika ?
Perbedaan berpikir kritis dan berpikir logika:
1.      Logika adalah ilmu pengetahuan untuk berpikir secara tepat.  Sedangkan berpikir kritis yang berasal dari kata kritis memiliki arti hakim yang sering diartikan sebagai penilain, baik buruk (negative) maupun positif.
2.      Berpikir secara logika adalah proses berpikir secara tepat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh akal sedangkan berpikir kritis merupakan kelanjutan dari proses berpikir logika dimana individu dituntut untuk menganalisa dan mengevaluasi suatu informasi maupun permasalahan yang ada.
3.      Berpikir kritis seringkali bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, sikap individu, dan juga pengalaman yang dimiliki sedangkan berpikir sedangkan berpikir logika seringkali didasarkan pada sesuatu yang diyakini.
4.      Berpikir logis dibutuhkan dalam mebuat suatu kesimpulan sedangkan berpikir kritis dibutuhkan dan digunakan untuk membuat suatu keputusan.
5.      Sebagai perawat berpikir menggunakan logika sangat diperlukan untuk memahami berbagai hal/ pengetahuan yang ada, namun berpikir secara kritis sangat penting untuk menentukan berbagai solusi dari permasalahan baru yang muncul.


6.      Bagaimana memulai sebuah penelitian ?
Langkah – langkah penelitian
Prinsip yang dipegang ketika dalam memulai penelitian supaya hasilnya layak dipercaya asalah sistematis, terencana, dan mmengikuti konsep ilmiah. ( Esis, 2006 )
1.      Sistematis
Penelitian dilaksanakan menurut pola tertentu
2.      Terencana
Penelitian direncanakan sesuai langkah penelitian
3.      Mengikuti konsep ilmiah
Penelitian dilakukan menurut cara yang sudah ditentukan

Proses meneliti.
Ada beberapa tahapan – tahapan yang mesti dilalui seorang peneliti :
1.      Penelitian dihadapkan pada masalah tertentu
2.      Merumuskan masalah
3.      Menetapkan hipotesis
4.      Mengumpulkan sata menguji hipotesis
5.      Mengambil kesimpulan
6.      Menentukan langkah untuk mengadakan generalisasi

Langkah-Langkah Memulai Riset Keperawatan ( Sitiatava Rizema Putra, 2012 )
-    Teknik Pemilihan dan Perumusan Masalah
-    Tinjauan Pustaka
-    Metode Riset Keperawatan
-    Kerangka Kerja, Variabel, dan Hipotesis Riset
-    Teknik Pengumpulan Data
-    Teknik Analisis Data
-    Analisis Data Menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solutions)
-    Penyajian Laporan Riset, dll.

Prosedur penelitian :
1.      Pembuatan rancangan penelitian sebagai pokok perencanaan dari seluruh kegiatan penelitian, yang terdiri dari : ( Esis, 2006 )
a.       Memilih masalah
b.      Studi pendahuluan
c.       Merumuskan suatu masalah
d.      Merumuskan anggapan dasar
e.       Memilih pendekatan
f.       Menentukan variable dan sumber data (menjawab pertanyaan)

2.      Pelaksanaan penelitian : ( Esis, 2006 )
a.       Menentukan dan menyusun instrument
b.      Mengumpulkan data
c.       Analisis data (dapat menggunakan teori korelasi product moment atau teori yang lebih sederhana)
d.      Menarik kesimpulan sementara atau hipotesis
e.       Setelah diuji lagi, barulah hipotesisi menjadi sebuah kesimpulan

3.      Pembuatan laporan
Dalam buku Prof. Sukardi, permasalahan yang diteliti hendaknya dapay memenuhi tiga criteria penting (Kerlinger, 1986), yaitu :
a.       Permasalahan atau problematika sebaiknya merefleksikan dua variable atau lebih
b.      Sebaiknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang jelas dan tidak meragukan
c.       Sebaiknya dapat diuji secara empiris
Setelah menemukan permasalahan, untuk melengkapi penelitian, kita mesti mencari informasi yang bisa dicari dari bermacam-macam sumber, yakni : ( Esis, 2006 )
1.      Jurnal penelitian
2.      Laporan hasil penelitian
3.      Abstrak (ringkasan tentang laporan hasil penelitian)
4.      Narasumber
5.      Buku
6.      Surat kabar dan majalah
7.      Internet
Sementara, data bisa didapatkan dari kuesioner, observasi, wawancara, dan sokumentasi. (Esis, 2006 )
1.      Kuesioner
Kuesioner atau angket adalah salah satu media untuk mengumpulkan data yang paling popular. Bentuknya bisa berupa pertanyaan terbuka, namun bisa juga pertanyaan tertutup.
2.      Observasi
Observasi lebih sering digunakan sebagai pelengkap instrument yang lain, termasuk wawancara dan kuesioner. Dalam observasi, peneliti lebih banyak menggunakan sal;ah satu panca indra yaitu mata.
3.      Wawancara
Pada teknik ini, peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau subjek di teliti.
4.      Dokumentasi

Penelitian Eksperimental Semu (Quasi- Experimntal)
Penelitian eksperimental semu (quasi- experimntal) dimaksudkan untuk memperoleh informasi tertentu, berupa perkiraan informasi yang dapat diperoleh pada eksperimen yang sebenarnya. Penelitian ini dilakukan pada kondisi yang tidak memungkinkan mengontrol atau memanipulasi semua variabel yang relevan.aspek validitas internal dan eksternal yang seharusnya diperhatikan oleh peneliti dalam membuat rancangannya, kurang menjadi titik tekan dalam makna peneliti bekerja dengan keterbatasan-keterbatasan itu.
Dilihat dari perspektif lain, quasi experiment bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan, mengklarifikasi mengapa suatu peristiwa terjadi, atau keduanya ( Cook & Campell, 1979). Penelitian ini menonjolkan sifat-sifat hubungan kausalitas. Karenanya, cocok dijadikan dasar untuk memprediksi fenomena. Namun demikian, oleh karena kontrolnya berada pada tingkat rendah, ”derajat ilmiahnya” kurang dibandingkan dengan penelitian eksperimental sungguhan, karena adanya kelemahanpada salah satu atau lebih dari faktor-faktor berikut ini:
-          manipulasi variabel perlakuan
-          manipulasi situasi
-          pemilihan subjek penelitian
Ada beberapa ciri dominan studi eksperimental semu, yaitu:
-          aspek yang diteliti praktis dengan tidak mungkin mengontrol semua variabel yang relevan, kecuali bebrapa variabel
-          menggunakan kontrol parsial
-          sering kali dilakukan secara tidak formal sehingga perlu diberi kategori tersendiri agar tidak menjadi sebuah penjelajahan semata
-          Rancangan quasy- experiment berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental. Tetapi pemilihan kedua kelompok ini tidak menggunakan teknuk acak. Rancangan ini biasanya menggunakan kelompok subjek yang telah terbentuk secara wajar (teknik rumpun), sehingga sejak awal bisa saja kedua kelompok iyu berbeda, mungkin perbedaannya bukan disebabkan oleh perlakuan tetapi karena kelompok awal sudah berbeda. Kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak. Pada kedua kelompok diawali dengan pre test, dan setelah pemberian perlakuan diadakan pengukuran kembali (pasca test).
Quasi experiment dapat dilakukan di bidang keperawatan, meski paling sering dipaki pada bidang psikologi. Beberapa contoh quasi experiment adalah sebagai berikut.
a.       Penelitian untuk menyelidiki efek kecepatan membaca mengenai prosedur perawatan pada tiga kelompok belajar mahasiswa keperawatan tanpa menentukan penempatan mereka pada perlakuan secara random, berdasarkan tingkat kecerdasan, jenis kelamin, atau mengawasi waktu membaca mereka secara cermat.
b.      Penelitian untuk menilai tingkat efektivitas tiga jenis layanan komunikasi keperawatan (satu arah, dua arah, dan persuasif) jika perawat dapat secara sukarela  melakukannya karena tertarik terhadap cara berkomunikasi di dalam bekerja.
c.       Penelitian dalam pendidikan keperawatan yang menggunakan tes awal dan tes akhir, yang di dalamnya variabel-variabel seperti kematangan, efek pantesan, regresi statistik, dan adaptasi tidak dapat dihindari atau terlewat di dalam penelitian.
6. Bagaimana memulai sebuah penelitian Quasi-eksperimental
Tahap-tahap yang perlu dipersiapkan setiap akan memulai sebuah penelitian adalah
-          Menentukan masalah atau topik penelitian
-          Membuat studi pendahuluan
-          Merumuskan latar belakang masalah penelitian
-          Merumuskan asumsi/anggapan dasar dan hipotesis
-          Menentukan metode penelitian
-          Menentukan variabel dan sumber data
-          Menentukan instrumen atau alat penelitian
-          Mengumpulkan data penilaian
-          Penyusunan laporan penelitian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar